We Call Sempalan
Wacana tentang naik naik keatas gunung
pernah terlontar oleh beberapa rekan pada saat itu, Canang, Mirza dan
Riskak adalah orang yang pertama kali mencetuskan akan pergi
main-main di atas gunung, ntah ini modus Riskak untuk mengebet Canang
hanya dia dan Tuhan yang tau hehehe namun terlepas itu saya amat
tertarik sekali untuk mencoba hal baru seperti ini. Sayang rasanya
kuliah di kampus yang di kelilingi oleh alam indah serta background
Gunung Ungaran yang setiap saat menghiasi kampus Undip. Mungkin
sekali-kali saya harus mencoba melihat kampus Undip dari atas puncak
Gunung Ungaran agar terasa adil karna setiap hari saya hanya melihat
puncak ungaran dari kampus Undip. Huehehehehe.
Namun seriring berjalannya waktu,
semester demi semester berlalu wacana tersebut terlontar tidak ada
perkembangan yang pasti tentang realisasinya, hingga pada akhirnya di
sela sela kesempatan rekan yang berasal dari Kudus menawarkan
kesempatan untuk pergi ke puncak 29, yaitu puncak tertinggi di Gunung
Muria. Langsung saja ajakan tersebut tidak kami tolak, begitu ada
waktu luang kami langsung merencankan tanggal keberangkatan bersama
peralatan yang perlu dibawa.
Malam itu di parkiran gedung FIB kami
menamai kelompok kami dengan SEMPALAN ntah bagaimana terjadinya dan
siapa saja yang ikut serta tidak begitu jelas teringat (maklum
ingatan tua). Sempalan yang bermakna sesepuh pengiat alam memang nama
yang guyon yang kami berikan
tetapi hingga saat ini nama itu masih menempel di dinding kontrakan (
baca : Basecamp Sempalan ), pada pendakian pertama ini mengikut
sertakan sembilan orang yang biasa disebut sebgai sembilan bintang,
sembilan bintang tersebut antara lain adalah, Galang, Ipul, Sifa,
Riskak, Nisa, Mirza Canang, Aan,
dan tentunya pawang serta kuncen Gunung Muria yaitu Arif Ulin Niam
ditambah rekan-rekan dari kuncen Gunung Muria kami berangkat ke
puncak 29.
Singkat
cerita kita sudah sampai di puncak 29 ( di tulisan ini tidak akan
membahas tentang perjalanan ke puncak gunung, kalo mau tau tanya aja
sama yang nulis, #masbuloh ) dan itulah penglaman sempalan kali
pertama pergi ke puncak gunung. Dengan pengetahuan minim serta
peralatan seadanya kami dapat menikmati keindahan ciptaan Tuhan
dengan cara yang berbeda. Ada kutipan percakapan yang mengatakan
“awake dewe ki do ngopo ya, liyane turu enak neng kasur
anget, kita malah dolan neng tengah alas koyo ngene” (
“kita ini pada ngapain ya, yang lain pada enak tidur di atas kasur
anget lah kita malah main di tengah hutan gini” ) dan percakapan
ini masih terngiang ngiang di kepala saya, di tengah keputusaan demi
mencapai puncak, menerbas dinginnya suhu gunung, tetapi mengapa kita
semua mau dan mampu melakukan itu semua, pertanyaan yang sulit saya
jawab hingga pendakian ke Gunung Ungaran serta Gunung Prau pertanyaan
ini masih tetap terngiang ngiang.
Tidak ada komentar: