We Call Sempalan

05.40
Wacana tentang naik naik keatas gunung pernah terlontar oleh beberapa rekan pada saat itu, Canang, Mirza dan Riskak adalah orang yang pertama kali mencetuskan akan pergi main-main di atas gunung, ntah ini modus Riskak untuk mengebet Canang hanya dia dan Tuhan yang tau hehehe namun terlepas itu saya amat tertarik sekali untuk mencoba hal baru seperti ini. Sayang rasanya kuliah di kampus yang di kelilingi oleh alam indah serta background Gunung Ungaran yang setiap saat menghiasi kampus Undip. Mungkin sekali-kali saya harus mencoba melihat kampus Undip dari atas puncak Gunung Ungaran agar terasa adil karna setiap hari saya hanya melihat puncak ungaran dari kampus Undip. Huehehehehe.
Namun seriring berjalannya waktu, semester demi semester berlalu wacana tersebut terlontar tidak ada perkembangan yang pasti tentang realisasinya, hingga pada akhirnya di sela sela kesempatan rekan yang berasal dari Kudus menawarkan kesempatan untuk pergi ke puncak 29, yaitu puncak tertinggi di Gunung Muria. Langsung saja ajakan tersebut tidak kami tolak, begitu ada waktu luang kami langsung merencankan tanggal keberangkatan bersama peralatan yang perlu dibawa.
Malam itu di parkiran gedung FIB kami menamai kelompok kami dengan SEMPALAN ntah bagaimana terjadinya dan siapa saja yang ikut serta tidak begitu jelas teringat (maklum ingatan tua). Sempalan yang bermakna sesepuh pengiat alam memang nama yang guyon yang kami berikan tetapi hingga saat ini nama itu masih menempel di dinding kontrakan ( baca : Basecamp Sempalan ), pada pendakian pertama ini mengikut sertakan sembilan orang yang biasa disebut sebgai sembilan bintang, sembilan bintang tersebut antara lain adalah, Galang, Ipul, Sifa, Riskak, Nisa, Mirza Canang, Aan, dan tentunya pawang serta kuncen Gunung Muria yaitu Arif Ulin Niam ditambah rekan-rekan dari kuncen Gunung Muria kami berangkat ke puncak 29.

 Singkat cerita kita sudah sampai di puncak 29 ( di tulisan ini tidak akan membahas tentang perjalanan ke puncak gunung, kalo mau tau tanya aja sama yang nulis, #masbuloh ) dan itulah penglaman sempalan kali pertama pergi ke puncak gunung. Dengan pengetahuan minim serta peralatan seadanya kami dapat menikmati keindahan ciptaan Tuhan dengan cara yang berbeda. Ada kutipan percakapan yang mengatakan “awake dewe ki do ngopo ya, liyane turu enak neng kasur anget, kita malah dolan neng tengah alas koyo ngene” ( “kita ini pada ngapain ya, yang lain pada enak tidur di atas kasur anget lah kita malah main di tengah hutan gini” ) dan percakapan ini masih terngiang ngiang di kepala saya, di tengah keputusaan demi mencapai puncak, menerbas dinginnya suhu gunung, tetapi mengapa kita semua mau dan mampu melakukan itu semua, pertanyaan yang sulit saya jawab hingga pendakian ke Gunung Ungaran serta Gunung Prau pertanyaan ini masih tetap terngiang ngiang. 

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.